Sepeda Ontel dari Kayu Buatan Pasuruan

915032Pasuruan Bersepeda menggunakan sepeda ontel merupakan hobi. Apalagi, jika sepeda ontel itu unik dan antik, berbeda dari pada umumnya. Di Pasuruan ada sepeda ontel yang terbuat dari bahan limbah kayu.

Chairil Anwar (52), warga Kalirejo, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan ini adalah termasuk salah satu perajinnya. Di tangannya, limbah-limbah kayu pabrikan pun dapat disulapnya menjadi uang. Bahkan ia pun dapat menghidupi istri dan anak-anaknya.

Selain hemat biaya lantaran tidak harus membeli BBM, sepeda ontel ini juga ramah lingkungan atau anti polusi udara karena tidak mengeluarkan emisi. Tak hanya itu, sepeda ini juga harganya tidak terlalu mahal alias dapat terjangkau kantong kita, karena hanya sekitar Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu. Lanjutkan membaca Sepeda Ontel dari Kayu Buatan Pasuruan

Iklan

Ribuan Siswa Melukis di Atas Cobek

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, berlangsung meriah. Ribuan siswa MTSN Bangil mengikuti lomba melukis nama Nabi Muhammad, yang digelar oleh pihak sekolah, Jumat (3/2/2012).


Uniknya, lomba melukis lafadz nama nabi ini bukan di atas buku gambar atau pun kain kanvas. Namun, para siswa-siswi tersebut justru melukis lafadz nama nabi Muhammad di atas cobek. Melukis di atas cobek bagi sebagian siswa adalah gampang-gampang susah. Sebab, ini membutuhkan kesabaran dan ketelatenan serta ketelitian.

Siswa Kelas 9 MTSN Bangil Ifa Nur Cahyani menuturkan, lukisan lafadz yang dibuatnya memakan waktu hingga 2 hari. “Ya gampang-gampang sulit sih. Soalnya ini buatnya dari kertas. Buatnya ini, memakan waktu hingga dua hari. Ini dalam rangka peringatan maulid nabi. Rencananya nanti juga akan dilombakan,” kata Ifa Nur Cahyani.

Pihak sekolah memilih cobek sebagai media lukis para siswa, dengan harapan agar eksistensi cobek lebih dikenal di zaman yang serba modern. Tak hanya itu, eksistensi cobek di zaman modern saat ini juga diharapkan tidak tersingkirkan dengan banyaknya alat-alat rumah tangga yang kini banyak beredar di pasaran.

“Cobek untuk orang-orang kampung itu, punya nilai tersendiri lah. Orang kampung itu, kalau acara Maulud, biasanya makanan ditaruh di atas cobek. Karena ini dunia pendidikan, makanya saya mengajak anak-anak untuk berkreasi. Tujuannya, agar cobek ini lebih dikenal oleh anak-anak sekarang,” terangf Toni Jakfar, Guru Kesenian.

sumber: beritajatim.com

Habib Abu Bakar bin Husen Assegaf Bangil

Mutiara Bersinar dari Bani Alawy

Beliau mempunyai garis keturunan suci yang terus bersambung dan bermuara pada penghulu manusia generasi dahulu dan sekarang hingga akhir nanti, al-Habibul A’dhom Muhammad SAW. Beliau adalah putra dari pasangan al-Habib Husein bin Abdullah Assegaf dan Syarifah Syifa binti Abdul Qodir al-Bahr yang dilahirkan di kota Seiwun, Hadramaut pada tahun 1309 H.

Salah satu maha guru beliau adalah Alhabib al-Quthb Abu Bakar bin Muhammad bin Umar Assegaf Gresik. Banyak dari kitab-kitab salaf yang beliau pelajari dari Habib Abu Bakar Assegaf terutama kitab karangan al-Imam Ghozali Ihya Ulumuddin. Tidak hanya sekedar belajar, Habib Abu Bakar Assegaf Gresik juga mengijazahkan dan memberi titah kepada beliau Habib Abu Bakar bin Husein untuk membaca sekaligus mengajarkannya setiap hari di kediamannya sendiri. Tercatat di kediamannya sediri, beliau telah mengkhatamkan kitab Ihya sebanyak 40 kali. Tiap ta hunnya beliau membuat jamuan yang istimewa dalam rangka acara khataman kitab Ihya tersebut. Beliau r.a adalah figur yang berakhlak mulia. Terbukti bahwa beliau adalah sosok yang luwes dalam bergaul. Beliau menatap setiap orang dengan tatapan yang berseri-seri, baik itu kecil atau besar, tua atau muda beliau tatap dengan muka manis penuh penghormatan. Beliau r.a juga senang berkumpul dan mencintai para fakir miskin dengan membantu memenuhi keperluan mereka, khususnya kaum janda dan anak-anak yatim. Meski p un demikian beliau belum pernah merasa kurang hartanya karena beliau bagi-bagikan, sebaliknya beliau mendapat balasan harta dan jasa dari orang-orang kaya pecinta kebajikan. Sungguh beliau r.a mencurahkan segenap umurnya untuk membantu kaum fakir miskin, orang-orang yang kesusahan, menjamu para tamu, mendamaikan 2 belah pihak yang saling berseteru dan mencarikan jodoh para gadis muslimat. Habib Abu Bakar bin Husein Assegaf selalu dan senantiasa memberikan motivasi untuk menapaki jejak para aslafunas sholihin, meniru dan berhias diri dengan akhlakul karimah. Bahkan beliau senantiasa mengingatkan akan mutiara kalam Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad (shohibur ratib):

“Berpegang tegunglah pada Al-Qur an da n ikutilah sunnah Rasul, dan ikutilah jejak para aslaf niscaya Allah akan memberimu hidayah.”

Lanjutkan membaca Habib Abu Bakar bin Husen Assegaf Bangil

Panggung Sejarah

Walaupun termasuk kota kecil, Bangil ternyata memiliki catatan sejarah panjang yang mengagumkan. Simak saja tulisan Benny G. Setiono dibawah ini yang disadur dari inti.or.id mengenai Pasang Surut Hubungan Tionghoa-Islam Dalam Panggung Sejarah Indonesia.

( Disampaikan dalam Seminar “Kontribusi Tionghoa Dalam Penyebaran Islam di Indonesia, yang dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2005 di Aula Kantor DPP Golkar Jl Anggrek Nelly Murni, Slipi- Jakarta Barat ).

Awal kedatangan orang Tionghoa.
Keberadaan orang-orang Tionghoa yang pertama kali di Nusantara sebenarnya tidak jelas. Dugaan selama ini hanya berdasarkan hasil temuan benda-benda kuno seperti tembikar Tiongkok di Jawa Barat, Lampung, daerah Batanghari dan Kalimatan Barat maupun yang disimpan di berbagai kraton dan genderang (genta) perunggu Dongson di Jawa, Bali dan dataran Pasemah, Sumatera Selatan.

Fa Hian seorang pendeta dari Tiongkok mengunjungi pulau Jawa dalam perjalanannya ke India antara tahun 399 sampai 414.. Pengalamannya di tulis dalam buku Fahuek,seratus tahun kemudiani Sun Yun dan Hwui Ning mengikutinya dengan melakukan ziarah dari Tiongkok ke India.

Pada tahun 671 Pendeta I-tsing berangkat dari Canton ke Nalanda melalui Sriwijaya. Seluruh pengalamannya diuraikan dengan cermat dalam bukunya Nan Hai Chi Kuei Fa Ch’uan dan Ta T’ang Si Yu Ku Fa Kao Seng Ch’uan. Pendeta I Tsing mengembara di luar Tiongkok selama 25 tahun. Ia kembali ke Kwangtung pada pertengahan musim panas pemerintahan Cheng Heng (tahun 695) dengan membawa pulang 4.000 naskah yang terdiri dari lima ratus ribu sloka. Dari tahun 700 sampai 712 ia menterjemahkan 56 buku dalam 230 julid. Hingga abad ke VII hanya pendeta Buddha Tionghoa yang melakukan perjalanan ke India yang mengunjungi Sriwijaya.
Menurut catatan yang ada, orang-orang Tionghoa mulai berdatangan ke Indonesia pada abad ke IX yaitu pada zaman dinasti Tang untuk berdagang dengan membawa barang-barang kerajinan seperti barang-barang porselen, sutera, teh, alat-alat pertukangan, pertanian dsbnya untuk ditukar dengan hasil-hasil pertanian terutama rempah-rempah, sarang burung walet,gambir, bahan obat-obatan dsbnya. Mereka yang sebelumnya hanya menunggu pedagang-pedagang asing yang datang ke Canton dengan menggunakan kapal-kapal Persia kemudian tertarik untuk melakukan perdagangn sendiri ke negara-negara Laut Selatan (Nanyang). Lanjutkan membaca Panggung Sejarah

Abdurrachman Baswedan

Ternyata selain sakera, Bangil juga melahirkan tokok pers dan pahlawan (atau adimne ae sing kuper). Beliau adalah AR Baswedan. Tokoh kelahiran Bangil. Mungkin diantara temen2 facebook kota Bangil ada yang jadi kerabatnya??

Dan mungkin masih banyak lagi pahlawan-pahlawan yang lahir di kota Bangil yang belum terekspose yang mengharumkan bumi pertiwi, walaupun mungkin tak harus hidup di masa perjuangan. Di masa kinipun diharapkan akan lahir pahlawan-pahlawan dari kota Bangil tercinta ini.

Check this out:
Khazanah pers sejarah Indonesia telah mencatatnya sebagai salah seorang yang memiliki peran di kancah percaturan pers Indonesia dalam zaman pergerakan dan masa setelah Indonesia merdeka. Orang tersebut adalah Adurrahman Baswedan. Seorang pria kelahiran Bangil, Jawa Timur, 18 September 1908. Baswedan mempunyai darah keturunan Arab. Karakternya khas; sebagai manusia yang dilahirkan zaman pergerakan, dia cepat panas dan penuh vitalitas. Pendidikan formalnya ditempuh di Madrasah, Ampel, Surabaya dan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta namun tidak rampung, tahun 1971. Lanjutkan membaca Abdurrachman Baswedan

Seabad Lebih

Ternyata jalur kereta api di Bangil baru merayakan ultahnya yang ke 130 tahun tanggal 20 Juli kemarin. Gak terasa ternyata usianya masih terbilang “imut”. 130 tahun. Apa gak ada keinginan untuk memperbaruhi ya??? 😀

Berikut adalah cuplikannya:
Tanggal 10 April 1869 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Staats Spoorwegen (SS) dan membangun lintasan Batavia-Bogor. Tanggal 16 Mei April 1878, perusahaan negara ini membuka jalur Surabaya-Pasuruan-Malang, dan 20 Juli 1879 membuka jalur Bangil-Malang. Pembangunan terus berjalan hingga ke kota-kota besar seluruh Jawa terhubung oleh jalur kereta api.Di luar Jawa, 12 Nopember 1876, Staats Spoorwegen juga membangun jalur Ulele-Kutaraja (Aceh). Selanjutnya lintasan Palu Aer-Padang (Sumatera Barat) pada Juli 1891, lintasan Telukbetung-Prabumulih (Sumatera Selatan) tahun 1912, dan 1 Juli 1923 membangun jalur Makasar-Takalar (Sulawesi). Di Sumatera Utara, NV. Deli Spoorweg Mij juga membangun lintasan Labuan-Medan pada 25 Juli 1886……..

Artikel selengkapnya bisa di baca di perusahaankeretaapihindiabelanda.blogspot.com

Sumber:
Boekoe Peringatan dari Staatsspoor & Tramwegen hindia Belanda 1875-1925, Topografische Inrichting Weltevreden, 1925

%d blogger menyukai ini: