Semua tulisan dari Kota Bangil

Panjang Tangan dan Sedekah

sedekah uangDalam suatu riwayat Aisyah pernah berkisah, bahwa suatu waktu setelahkematian Nabi SAW, para istrinya berkumpul pada suatu rumah salah satu diantaranya. Lalu mereka mengukur tangan-tangan mereka di tembok untuk mencari tangan mana yang terpanjang. Aktivitas ini sering dilakukan mereka, sampai meninggalnya Zainab binti Jahsy.

Apa sebab hal ini dilakukan oleh para istri Nabi SAW? Ternyata, suatu waktu Rasulullah SAW pernah bersabda seperti diriwayatkan Bukhari dan Muslim,

“Bahwa yang paling cepat menyusul diriku dari kalian (istri-istriku) adalah yang paling pajang tangannya.”
Yang paling cepat menyusul Rasulullah SAW adalah Zainab binti Jahsy. Sementara Zainab memiliki tangan yang pendek dan bukan yang terpanjang bila dibandingkan dengan istri Nabi SAW lainnya.

Mengapa Zainab? Menurut Aisyah dinukil dari hadits yang sama, karena Zainab bekerja dengan tangannya sendiri dan selalu bersedekah. Bahkan pada suatu riwayat yang dikeluarkan oleh ath-Thbarani dalam al-Ausath disebutkan bahwa Zainab radhiallhu ‘anha merajut pakaian kemudian memberikannya kepada pasukan Nabi SAW. Para pasukan Nabi SAW menjahit serta memanfaatkannya pada saat peperangan.

Akhirnya para istri Nabi SAW pun mengetahui maksud Nabi SAW mengenai apa yang disebutnya dengan “panjang tangan”, yakni suka bersedekah. Dan Zainab-lah ang dimaksud dalam hadits tersebut.
Wallahu’alam.

Dimuat dalam Majalah Sabili edisi 23 tahun XVIII Agustus 2011

Iklan

Dampak Pengakuan Keislaman Cheng Ho

cheng-hoIslam tidak akan berkurang derajatnya, meskipun ada peran orang-orang China di dalamnya. Di sini orang lupa bahwa keislaman China lebih tua ketimbang Jawa. Orang-orang China telah mengenal Islam di saat masyarakat Jawa hidup dalam dunia berhala dan klenik.

(Soemanto Al Qurtuby dalam Seminar Membincang Kontribusi Tionghoa dalam Proses Islamisasi di Indonesia, 19 Maret 2005).

MAJALAH sekelas National Geographic dengan tegas menyatakan Cheng Ho adalah seorang Tionghoa muslim. Tentu saja pernyataan tadi berangkat dari dukungan data, bukan sekadar legenda.

National Geographic Society memiliki reputasi sebagai organisasi ilmiah dan nirlaba yang terlibat dalam lebih dari 8.000 eksplorasi dan penelitian sejak 1888. Namun, di Indonesia, keislaman Cheng Ho masih saja jadi kontroversi, baik di komunitas Tionghoa maupun Islam. Keislaman Cheng Ho seakan diterima dengan setengah hati.

Lihat saja, tak seorang pun Tionghoa Muslim diajak duduk dalam Panitia 600 Tahun Cheng Ho. Juga dari sekian banyak acara yang dirancang, yang bernuansa Islam cuma lomba nasyid dan salah satu seminar. Sama sekali tidak menonjol dibanding acara-aara tersebut, cuma sekadarnya saja, semacam tempelan. Yang lebih dahsyat, sepucuk surat pembaca menceriterakan tentang penggusuran makam-makam tua Tionghoa muslim (Liem Wa Tiong, Oei Kiem Liang, Ang Tjin Kien, Tan Dinar Nio, Henry Tan, dan lain-lain).

Semula makam-makam itu ada di bagian belakang Sam Po Kong. Surat pembaca itu juga mengeluhkan diturunkannya papan kaligrafi ”Me Zheng Lan Yin” (terjemahan bebasnya: Merenungkan dan mengamalkan ajaran Alquran). Papan itu diturunkan setelah kunjungan Imam Besar Masjid Beijing ke Sam Po Kong. Dalam kunjungan tersebut, sang ulama China menyatakan bahwa kaligrafi tersebut menegaskan keislaman Cheng Ho. Lanjutkan membaca Dampak Pengakuan Keislaman Cheng Ho

Ke Bangil Ibu Ani Beli Souvenir untuk Raja Brunei

Pasuruan (beritajatim.com) – Ibu Negara Ani Yudhoyono memborong sejumlah produk rumah busana Faiza Bordir di Jl Bader 27 Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Kamis (2/5/2013).

Selain home decoration, Ani Yudhoyono juga memborong kebaya batik bordir koleksi terbaru Faiza Bordir. “Yang dibeli hampir semua produk kami. Dari mulai kebaya yang ekslusif sampai home decoration. Bahkan ada pemesanan jumlah banyak sekali,” kata Hj Fais Yunianti, pemilik rumah busana Faiza Bordir.

Diantara produk kerajinan bordir yang dibeli Ani Yudhoyono, beberapa produk ini nantinya akan dijadikan cindera mata untuk Raja Brunai Darussalam. “Berapa ya, kalau rupiahnya kami belum bisa menghitung. Karena yang dipesan yang pertama juga untuk souvenir Raja Brunai Darussalam untuk acara kenegaraan di Cekeas,” jelasnya. Lanjutkan membaca Ke Bangil Ibu Ani Beli Souvenir untuk Raja Brunei

Bangkodir di Jawa Timur?

“Bangkodir” ini bukanlah siapa-siapa. Dan bukan teman dari bang toyib. “Bangkodir” hanyalah sebuah akronim dari “Bangil Kota Bordir”. Dikota ini terdapat berbagai macam busana dengan berbagai macam bordiran yang mempesona. Bangkodir ini terdapat di kecamatan bangil kabupaten pasuruan, Jawa Timur. Sebutan “bangkodir” ini diresmikan pada tahun 2005 oleh pemerintah kabupaten pasuruan dan mendapat Rekor MURI disertai fashion show sepanjang 1 KM. Bangil sendiri terletak di akses jalan dari surabaya menuju banyuwangi dan bali. Serta mempunyai jalur alternatif yang bisa menghubungkan kita dengan cepat menuju pandaan , sukerejo, dan malang. Bangil sendiri hanyalah sebuah kecamatan tetapi mempunyai tenaga kerja yang ahli dalam membordir busana. Baik busana pria, busana muslim, sampai dengan baju anak-anak yang di bordir dengan berbagai macam bentuk. Selain itu bangkodir merupakan nama even super bazar tahunan yang diadakan oleh pengrajin kerajinan bordir di bangil, Jawa Timur. Pada tahun 2005, “bangkodir” menjadi even yang sangat besar dengan memamerkan berbagai macam kerajinan bordir. Dinamakan bangkodir karena berawal dari kegelisahan pemerintah bangil yang pada saat itu penghasil kerajinan bordir di bangil sangat banyak bahkan mereka sampai mengekspor kerajinan tersebut ke mancanegara. Tetapi karena volume produksi yang besar tersebut tidak membuat kota bangil dan pasuruan menjadi besar. Sebab, bangil hanyalah sebuah daerah produksi tetapi tidak mempunyai brand. Lanjutkan membaca Bangkodir di Jawa Timur?

Habib Kramat Bangil

Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad adalah seorang ulama besar pada zamannya. Ia menuntut ilmu dari beberapa ulama, kuat beribadah, dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ulama yang dikenal sangat alim, dan karenanya dikenal sebagai waliyullah itu lahir pada 4 Safar 1261 Hijriyah atau 12 Februari 1840 M. di kota Hawi, Tarim, Hadramaut, Yaman.

Habib Abdullah yang di Indonesia lebih populer dengan sebutan Habib Kramat Bangil, terkenal di kalangan muslimin sebagai ulama yang konsisten memperjuangkan kebenaran. Di masa hidupnya, tak jemu-jemunya ia mengajak umat untuk selalu hidup di jalan yang benar, sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunah Rasul.

Habib Abdullah juga menulis sejumlah kitab, yang tidak hanya kitab-kitab agama, tapi juga menulis syair yang bermuatan hikmah. Kumpulan syairnya di bukukan dalam diwan (antologi) berjudul Qalaid al-Lisan fi Ahl al-Islam wa Al-Iman.

Kitab yang ia tulis antara lain, Suliamuthalib li alal Muratib, Syarah Ratib Haddad, Hujjatul Mukminin  fi Tawasul Bisayid al-Mursalin, dan kitab Maulid Al-Haddad, dan lain-lain. Sebagai penghormatan kepadanya, setiap tanggal 27 Safar digelar acara Haul di makamnya di Sangeng Kramat Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.

Ia dibesarkan dalam keluarga yang akrab dengan nuansa kenabian, kewalian, dan keilmuan. Sejak kecil ia mendapat bimbingan membaca, mempelajari dan menghafal Al-Qur’an dari ayahnya, Habib Ali bin Hasan Al-Haddad, sehingga alam pikirannya selalu terpaut pada Al-Qur’an. Lanjutkan membaca Habib Kramat Bangil

Puluhan Hewan Reptil dilepas ke Alam Bebas

ForebalBertempat di paseban alun-alun Bangil Minggu pagi kemarin (28/4) punggawa Forebal (Forum Reptil Bangil), menggelar ulatahnya yang pertama. Dalam giat perayaan ultahnya ke satu tersebut selain mengundang para komunitas penyanyang hewan reptil di Bangil, juga di undang pula komunitas pencinta reptil dari luar kota yakni dari Gresik-Jawa Timur.
     Tak pelak acara yang digelar tersebut membuat banyak masyarakat yang pagi itu berada di alun-alun Bangil ikut serta dalam rangkaian acara tersebut. Tak kurang dari ratusan binatang dipamerkan pada acara tersebut yakni ular dari berbagai jenis dan ukuran baik yang berbisa maupun tak berbisa, biawak,musang,iguana,kura-kura,kukang atau kus-kus. Kesemua binatang tersebut dipamerkan sesuai dengan kreteria kejinakannya masing-masing.
     Menurut Arifian 25 Th warga Bangil yang menjabat sebagai pelindung komunitas hewan reptil ini menerangkan ,” kami sengaja melakukan giat ultah “forebal” dimuka umum seperti ini, dengan tujuan agar masyarakat mengetahui bahwa hewan ini tidak sepatutnya dimusuhi atau dibunuh tanpa alasan yang jelas dan hanya untuk pelampiasan berburu saja. Keberadaan hewan ini diciptakan untuk keseimbangan alam, apabila hean reptil seperti ini selalu diburu maka dapat dipastikan keseimbangan alam akan rusak dan yang terpenting yakni keberadaannya akan segera musnah dari muka bumi. Padahal tidak seluruh tanah dimuka bumi ini memiliki jenis reptil seperti di Indonesia.Contoh nyata adalah kukang (kus-kus)yang saat ini keberadaan sudah sangat jarang sekali ditemukan. Selain menggelar acara ultah kami juga akan memberikan pelajaran pada masyarakat bagaimana mengatasi hewan reptil liar yang ada dialam bebas baik menangkap maupun menjinakkannya, ungkap Arifian yang juga seorang Bintara Polri yang berdinas di Mapolres Pasuruan. Lanjutkan membaca Puluhan Hewan Reptil dilepas ke Alam Bebas

Habib Abu Bakar bin Husen Assegaf Bangil

Mutiara Bersinar dari Bani Alawy

Beliau mempunyai garis keturunan suci yang terus bersambung dan bermuara pada penghulu manusia generasi dahulu dan sekarang hingga akhir nanti, al-Habibul A’dhom Muhammad SAW. Beliau adalah putra dari pasangan al-Habib Husein bin Abdullah Assegaf dan Syarifah Syifa binti Abdul Qodir al-Bahr yang dilahirkan di kota Seiwun, Hadramaut pada tahun 1309 H.

Salah satu maha guru beliau adalah Alhabib al-Quthb Abu Bakar bin Muhammad bin Umar Assegaf Gresik. Banyak dari kitab-kitab salaf yang beliau pelajari dari Habib Abu Bakar Assegaf terutama kitab karangan al-Imam Ghozali Ihya Ulumuddin. Tidak hanya sekedar belajar, Habib Abu Bakar Assegaf Gresik juga mengijazahkan dan memberi titah kepada beliau Habib Abu Bakar bin Husein untuk membaca sekaligus mengajarkannya setiap hari di kediamannya sendiri. Tercatat di kediamannya sediri, beliau telah mengkhatamkan kitab Ihya sebanyak 40 kali. Tiap ta hunnya beliau membuat jamuan yang istimewa dalam rangka acara khataman kitab Ihya tersebut. Beliau r.a adalah figur yang berakhlak mulia. Terbukti bahwa beliau adalah sosok yang luwes dalam bergaul. Beliau menatap setiap orang dengan tatapan yang berseri-seri, baik itu kecil atau besar, tua atau muda beliau tatap dengan muka manis penuh penghormatan. Beliau r.a juga senang berkumpul dan mencintai para fakir miskin dengan membantu memenuhi keperluan mereka, khususnya kaum janda dan anak-anak yatim. Meski p un demikian beliau belum pernah merasa kurang hartanya karena beliau bagi-bagikan, sebaliknya beliau mendapat balasan harta dan jasa dari orang-orang kaya pecinta kebajikan. Sungguh beliau r.a mencurahkan segenap umurnya untuk membantu kaum fakir miskin, orang-orang yang kesusahan, menjamu para tamu, mendamaikan 2 belah pihak yang saling berseteru dan mencarikan jodoh para gadis muslimat. Habib Abu Bakar bin Husein Assegaf selalu dan senantiasa memberikan motivasi untuk menapaki jejak para aslafunas sholihin, meniru dan berhias diri dengan akhlakul karimah. Bahkan beliau senantiasa mengingatkan akan mutiara kalam Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad (shohibur ratib):

“Berpegang tegunglah pada Al-Qur an da n ikutilah sunnah Rasul, dan ikutilah jejak para aslaf niscaya Allah akan memberimu hidayah.”

Lanjutkan membaca Habib Abu Bakar bin Husen Assegaf Bangil