Bangil Perlu Jembatan Penyeberangan

Seputaran alun-alun Bangil dan plaza baru menjadi tempat jujukan warga. Namun, ada yang kurang di tempat tersebut. Yakni, jembatan penyeberangan yang menghubungkan alun-alun dengan plaza baru.

Selama ini, warga harus tengok kanan-kiri terlebih dulu, agar tidak tertabrak kendaraan saat akan menyeberang. Karena, jumlah kendaraan yang melintas dari arah Gempol menuju Bangil atau Pasuruan ke Surabaya jumlahnya ribuan setiap harinya.

Selain itu, laju kendaraan sering tersendat ketika memasuki pertigaan Bangil ini. Karena, banyak warga yang menyeberang jalan tersebut. “Harus ada pemisahan antara pejalan kaki dengan kendaraan. Masak kita nggak bisa mencontoh Kota Malang. Di sana ada jembatan penyeberangan yang melintas dari alun-alun menuju Sarina Plaza. Sehingga, mengurangi tingkat kecelakaan,” ujar Romli, warga Bangil, kemarin.

Romli mencontohkan penataan Kota Malang, karena terdapat persamaan dengan kondisi di Bangil. Di Malang, jembatan penyeberangan yang dibangun pemerintah setempat bekerjasama dengan swasta, melintas antara alun-alun dengan Plaza.

Selain itu, dengan adanya jembatan itu, petugas lalu lintas terkonsentrasi mengatur kendaraan. Kalau ada orang yang nekat menyeberang tidak menggunakan jembatan penyeberangan, maka resiko akan ditanggung sendiri.

Kondisi ini juga hampir sama dengan Bangil. Alun-alun yang berhadap-hadapan dengan plaza baru itu harus diberi jembatan penyeberangan juga. Itu akan memudahkan warga saat melintas jalan raya tanpa resiko kecelakaan.

“Dalam jangka panjang, jembatan penyeberangan itu juga berfungsi ganda. Bisa juga menghasilkan reklame dan pendapatan daerah. Tapi, ini tak pernah dipikirkan oleh pemimpin-pemimpin Pasuruan selama bertahun-tahun,” kritiknya.

Dari pantauan Radar Bromo, sejak pagi, jumlah kendaraan yang melintas di wilayah Bangil sangat padat. Jumlah yang melintas dari arah barat ke timur atau sebaliknya mencapai ribuan.

Hanya, laju kendaraan ketika memasuki pegadaian sampai perlintasan kereta api di Latek, terus merambat. Apalagi, ketika sampai di Pertigaan dan Peranem Bangil, kendaraan yang melintas harus ekstrahati-hati. Sebab, mulai pelajar, pedagang, hingga warga biasa hilir mudik menyeberang. Bahkan, kadang menyeberang seenaknya. Tanpa memikirkan laju kendaraan.

“Wilayah Bangil ini seperti gulu (leher, Red) botol. Dari Gempol sampai Beji masih longgar. Tapi, setelah masuk Bangil, jalan menyempit seperti leher botol. Jelas ini perlu solusi. Termasuk bagaimana menjaga keamanan dari penyeberang jalan,” tegas KH Khoiron Syakur, warga Bangil lainnya.

Pengasuh Ponpes KH A Wahid Hasyim Bangil ini juga sepakat kalau seputaran pertigaan atau peranem diberikan jembatan penyeberangan. “Ini sekaligus untuk mengatur pejalan kaki dan sepeda pancal dengan kendaraan bermesin,” cetusnya. (day)

Sumber: jawapos.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s