Lebih Dekat dengan Nderek Scooter Team, Komunitas Vespa asal Bangil

Tidak Boleh Kebut-kebutan, Sepakat No Drug No Narkoba

Komunitas pecinta vespa kian menjamur. Di Bangil, saat ini muncul Nderek Scooter Team. Setiap malam Minggu, mereka kongkow-kongkow di depan Alun-Alun Bangil. Apa saja kegiatannya?

Sorot lampu di seputaran alun-alun Bangil masih berbinar. Jarum jam masih menunjukkan pukul 20.00 WIB. Dari arah barat, terdengar raungan puluhan motor vespa yang mendekati alun-alun Bangil.

Begitu tiba di alun-alun, satu persatu scooter rakitan 1960-an diparkir berjajar. Dari scooter yang memakai sespan (gandengan), ada yang Coper. Bahkan ada pula scooter dengan panjang 2,75 meter dan scooter modifikasi FIZ R.

Setelah semua vespa ini diparkir, para pengemudinya bersiap-siap menggelar tikar panjang. Satu buah galon berisi air mineral diangkut tiga orang untuk dijadikan pelepas dahaga. Satu persatu dari anggota klub minum dalam segelas air mineral secara bergantian. Jika ada sisa uang lebih, mereka juga menyediakan makanan kecil seperti kacang atau roti untuk menghabiskan malam minggu. “Ini semua anggota kami yang aktif. Setiap malam Minggu, mereka wajib hadir di sini,” ujar Suprayogo Asmoro, Ketua Nderek Scooter Team sambil memperkenalkan kawan-kawannya.

Para kru Nderek ini baru saja melepas malam tahun baru di pulau Dewata, Bali. Acara touring yang mereka lakukan diawali dengan bersama-sama ke Magelang. Saat itu, pada 15 Desember 2008, Asmoro dkk berkonvoi mengitari Candi Borobudur untuk perhelatan akbar Gebyar Scooter Nusantara.

Setelah dari Borobudur, mereka bertolak ke Bangil. Namun, beberapa hari kemudian, tepatnya pada 27-28 Desember, mereka kembali melakukan touring. Kali ini menuju Ubud Gianyar Bali. Mereka menyaksikan ulang tahun Dewata Scooter Club asal Bali. “Yang datang, wuih sama dengan ukuran dua lapangan bola. Scooter sepertinya menjamur di Nusantara ini,” imbuh M. Soleh, wakil ketua yang berada di sisi sebelah kanan Asmoro.

Nah, karena terlalu mepet dengan pergantian tahun, Asmoro dkk memutuskan untuk tahun baruan di pulau Dewata. “Rasanya beda, kalau kita tahun baruan di sana. Benar-benar luar biasa,” imbuh Soleh.

Namun, jika tidak ada agenda keluar kota, setiap malam minggu, aktivitas Nderek Scooter Team (NST) selalu ada di alun-alun Bangil. Warga Bangil dan sekitarnya bisa melihat aktivitas mereka dari dekat. Kegiatan ini sudah berlangsung selama dua periode kepemimpinan dalam organisasi klub NST.

Periode pertama pada 1997, NST di bawah kendali (alm) Rodi asal Kersikan, Bangil. Di bawah kendali (alm) Rodi, nama NST melejit dan diakui secara nasional. Karena, saat itu bisa menorehkan prestasi drag race di Kenjeran Surabaya, meski belum resmi terdaftar di Ikatan Motor Indonesia (IMI) pusat. “Saat itu, almarhum mas Rodi dan kawan-kawan bisa menjadi juara kedua di Kenjeran. Lantas, orang IMI kaget. Kok ada nama Nderek. Padahal, kan tidak terdaftar,” cerita Asmoro kemudian. Dari prestasi inilah, kemudian pihak IMI meminta Nderek menjadi anggota dan menyusun kepengurusannya. Nderek pun saat itu menjadi anggota ke-83 IMI.

Kata Nderek berasal dari bahasa Jawa, yang artinya Ikut. Kenapa dinamai Nderek? “Waktu itu di Kenjeran, kami kan belum terdaftar. Saat panitia tanya, Mas Rodi dan Mas Priyo saat itu bilang, Nderek mawon (Ikut saja). Eh, ternyata dapat juara dua. Ya sudah sampai sekarang, nama klub kami, ya Nderek ini,” tegas Asmoro sambil tertawa.

Pasca periode pertama (1997-2000), reformasi kepengurusan juga terjadi. Tampuk kepemimpinan (alm) Rodi diserahkan pada Solikan, warga Gajah Bendo, Beji. Dan itu berlangsung sampai pada 2005. “Periode kepemimpinan kami berlangsung sejak 2005 sampai sekarang. Kami menerapkan kedisiplinan yang lumayan ketat buat para anggota,” terang pria yang saat itu memakai tutup kepala ini.

Kedisiplinan yang dimaksudkan di antaranya, para anggota harus punya komitmen yang tinggi untuk mengikuti agenda kegiatan NST. “Kalau hanya asal-asalan, kami langsung minta dia mundur. Untuk mendapatkan KTA (Kartu Tanda Anggota), anggota baru butuh waktu minimal 1 tahun,” terang Soleh menjelaskan.

Yang paling urgen dalam klub ini, semua anggota wajib menyepakati untuk tidak minum (drug) dan menjauhi narkoba. “Kalau sudah masuk ke komunitas kami, maka harus kita sepakati no drug, no narkoba,” tegas Soleh.

Selain itu, saat dalam rombongan, jiwa persahabatan harus ditanamkan. Termasuk saat touring, semua yang ikut ke luar kota harus satu jalan. Tidak kebut-kebutan. Kalau ada satu vespa yang mengalami kerusakan mesin, maka semua yang lain harus berhenti dan mencari solusi. “Biasanya vespa itu rewel pada platina atau kawat yang terputus. Kami sudah siapkan mekaniknya. Ini dia,” terang Asmoro sambil mengenalkan Sulaiman, sang mekanik di klub ini.

Jiwa persahabatan itu juga terlihat pada malam minggu kemarin. Kebetulan pada malam minggu itu ada takziyah. Orang tua salah satu angota klub meninggal dunia. (*)

Aumber: jawapos.co.id

MUHAMMAD HIDAYAT, Bangil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s