Bangkodir di Jawa Timur?

“Bangkodir” ini bukanlah siapa-siapa. Dan bukan teman dari bang toyib. “Bangkodir” hanyalah sebuah akronim dari “Bangil Kota Bordir”. Dikota ini terdapat berbagai macam busana dengan berbagai macam bordiran yang mempesona. Bangkodir ini terdapat di kecamatan bangil kabupaten pasuruan, Jawa Timur. Sebutan “bangkodir” ini diresmikan pada tahun 2005 oleh pemerintah kabupaten pasuruan dan mendapat Rekor MURI disertai fashion show sepanjang 1 KM. Bangil sendiri terletak di akses jalan dari surabaya menuju banyuwangi dan bali. Serta mempunyai jalur alternatif yang bisa menghubungkan kita dengan cepat menuju pandaan , sukerejo, dan malang. Bangil sendiri hanyalah sebuah kecamatan tetapi mempunyai tenaga kerja yang ahli dalam membordir busana. Baik busana pria, busana muslim, sampai dengan baju anak-anak yang di bordir dengan berbagai macam bentuk. Selain itu bangkodir merupakan nama even super bazar tahunan yang diadakan oleh pengrajin kerajinan bordir di bangil, Jawa Timur. Pada tahun 2005, “bangkodir” menjadi even yang sangat besar dengan memamerkan berbagai macam kerajinan bordir. Dinamakan bangkodir karena berawal dari kegelisahan pemerintah bangil yang pada saat itu penghasil kerajinan bordir di bangil sangat banyak bahkan mereka sampai mengekspor kerajinan tersebut ke mancanegara. Tetapi karena volume produksi yang besar tersebut tidak membuat kota bangil dan pasuruan menjadi besar. Sebab, bangil hanyalah sebuah daerah produksi tetapi tidak mempunyai brand.

Bangil merupakan kota dengan berbagai macam kerajinan maupun makanan. Makanan khas yang berasal dari kota bangil ini adalah nasi punel. Nasi punel ini merupakan perpaduan dari dendeng, serundeng, sambel, tahu pedas, sambel kacang panjang, serta berasnya itupun ditanak hingga benar-benar punel. Apabila mengunjungi bangkodir ini, jangan sampai ketinggalan untuk menikmati hidangan nasi punel yang bisa didapat dengan harga sekitar Rp 10.000,00,-. Nasi punel ini bisa dinikmati ketika sarapan atau ketika di malam hari. Nasi punel ini menjadi teman dimana kita sembari mencari busana berbordir di kota bangil tersebut. Busana bordir tersebut juga dipesan dari berbagai daerah di Jawa Timur. Yang paling banyak yakni dari daerah tulungagung, surabaya, malang serta dari daerah jakarta pun ada. Saat ini di bangil terdapat berbagai macam rumah industri bordir dengan banyaknya tenaga pengrajin kesenian bordir. Busana bordir ini harganya lumayan murah dan hasilnya lumayan terjangkau. Busana bordir ini dilengkapi dengan berbagai macam motif, sebut saja ada 10 motif yang disajikan.

Tulisan “Bangkodir” ini bisa kita temukan di gapura masuk kota bangil. Gapura yang besar dan kokoh tersebut menjadi salah satu ikon kota bangil karena gapura tersebut menunjukkan bahwa kita sudah memasuki wilayah bangil yang terkenal dengan bordirannya. Banyak sekali pengunjung yang memesan busana bordir tersebut dengan berbagai macam motif. Semenjak banyak pengrajin kesenian bordir ini, kota bangil berubah menjadi home industri bordir yang menjamur di berbagai sudut kota tersebut. Potensi bangil dan pasuruan menjadi kota besar bisa asal cara mengemasnya dapat tersusun secara rapi. Jarang sekali disalah satu kota terdapat berbagai macam pengrajin bordir dan bisa mengekspor ke mancanegara. Kalau harga murah pasti banyak tetapi bila kualitas terjangkau jarang sekali ditemukan. Di bangil ini kualitas bordir tersebut dijamin tidak akan rusak ataupun sobek karena pengrajin yang membuatnya pun sudah ahli. Para pengrajin bordir tersebut tidak perlu sekolah di sekolah yang memang dikhususkan untuk belajar membordir tetapi mereka memang sudah dari dalam diri mereka masing-masing sehingga potensi tersebut muncul dan menjadikan kota bangil dan pasuruan menjadi besar dan terkenal. Apabila baru membaca tulisan ini mungkin mereka tidak mengenal kota bangil dan pasuruan maka dari itu silahkan saja mengunjungi kedua kota tersebut karena ketika memasuki kota tersebut akan ditawarkan berbagai macam busana dengan motif bordir yang unik. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk khalayak umum.

Tulisan Putri Atikah Lellyana, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN SUNAN KALIJAGA Yogyakarta.

Sumber: kompasiana.com

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s